Monday, July 03, 2006

Semifinal! Kutukan Inggris, Kematangan Lehmann dan Puber Kedua Zidane

Perempat final yang dramatis!

Sebelumnya gue mau komentar buat siapa saja yang merasa bosan dengan blog ini. Cuma ada satu saran aja dari gue: jangan baca. Nggak usah komentar yang bikin nyolot. Ini kamar gue. Gimana rasanya lo ada orang masuk kamar lo, terus maki-maki? Lagian emang seberapa pentingnya sih blog ini buat kehidupan kalian? Kalo emang nggak penting, nggak usah komentar. Titik.

Tapi terima kasih sebanyak-banyaknya buat yang mau datang baik-baik dan mengapresiasi dengan oke. My appreciation for you all.

Dan judul posting sebelumnya memang proudness. Sebab yang gue bicarakan adalah proudness: the quality of being proud. Itu gue paste langsung dari kamus. Kecuali ada yang ngerasa lebih pinter dari kamus. Proudness itu dekat dengan arogansi. Itu yang gue bicarakan. Buat sebagian orang mungkin mereka bisa sombong jadi orang Jakarta karena hal lain. Tapi buat 20.000 Jakmania, mereka bisa sombong jadi orang Jakarta karena Persija.

Oke. Cukup. Sekarang mari kembali ke Piala Dunia.

Perempat final pertama, Jerman vs Argentina.

Damn. Ini seharusnya jadi final. Kualitas dan grafik permainan keduanya luar biasa sepanjang partai-partai sebelumnya.

Sejak kick-off, Argentina tahu apa yang mesti dilakukan. Mereka langsung mengisi lapangan tengah. Menyetop pergerakan Ballack dan Schwensteiger. Dan barisan belakang dengan kerja sangat keras berusaha menghalau crossing-crossing berbahaya. Sorin, Ayala terlihat melompat lebih tinggi dari biasanya. Menyapu bola yang masuk lewat udara ke kotak penalti Argentina.

Riquelme memimpin lapangan tengan Argentina dengan baik. Menyuplai bola dengan pintar. Membuat Argentina menekan Jerman. Teves dan Rodriguez juga membuat tusukan-tusukan yang tajam.

Hasilnya sepanjang babak pertama, Argentina lebih dominan. Sementara Jerman berusaha keluar dari tekanan lewat Philip Lahm. Gila bek kiri satu ini. Mobil sekali.

Skor tetap 0-0 dengan menampilkan pertandingan ketat dan memikat.

Empat menit setelah peluit babak kedua, Robert Ayala membuat fans Argentina menggila. Sundulannya, hasil sepak pojok Riquelme, menaklukkan Lehmann.

Detik berikutnya, permainan Jerman seperti baru dimulai. Mendadak mereka menekan gas sangat kencang. Bola-bola satu dua kombinasi dengan umpan lob membuat lapangan tengah jadi kocar-kacir. Tekanan Argentina pun jadi berantakan.

Klinsmann pun mengganti Schweinsteiger yang buntu dengan Tim Borowksi. Juga memasukkan si cepat Odonkor. Tipe pendobrak yang makin membuat lapangan tengah Argentina terbelah. Terpaksa anak-anak Argentina tertarik mundur ke garis pertahanan mereka.

Menit ke 71, sebuah screamage membuat Abbondanzieri cedera. Dan terpaksa diganti oleh kiper cadangan Franco. Banyak yang bisa melihat Franco terlihat gugup. Dan ini juga jadi semacam pertanda sial buat Argentina.

Bocah-bocah Jerman pun terus bermain menggempur. Pekerman membuat keputusan yang penuh pertaruhan. Dia menarik Riquelme. Memasukkan Cambiasso yang lebih bertahan. Lalu dia juga menarik Crespo dan memasukkan Cruz.

Keluarnya Riquelme membuat lapangan tengah Argentina makin menciut ke dalam. Rodriguez dan Tevez yang berusaha untuk tetap menyerang harus mencari bolanya sendiri. Gue mencatat Tevez luar biasa sekali bermainnya. Dia ada dimana-mana dan tak kenal lelah.

Sayang sekali bocah emas kesayangan publik, Messi, tidak bisa dimainkan. Karena Pekerman sudah menghabiskan jatah pergantian pemainnya.

Namun digempur terus menerus, membuat pertahanan Argentina kendur juga. Apalagi yang menggempur datang dengan kepercayaan diri sangat tinggi. Mata para pemain Jerman seperti sudah yakin mereka akan menang. Mereka bermain luar biasa berani dan pasti. Keyakinan diri yang luar biasa. Terutama Ballack. Auranya sampai menembus layar tivi rasanya.

Menit ke 80, lewat sebuah umpan lambung yang brilian dari Ballack, disundul dengan sangat cerdik oleh Borowski mengarah pada Klose yang menanduk bola sampai menggetarkan jala Franco. Sebuah kombinasi yang luar biasa. Gue melihat Borowski sambil berlari melihat ke arah posisi Klose sebelum Ballack mengumpan. Dan Ballack membaca pergerakan itu dengan sempurna. Ballack sendiri mendapatkan ruangnya setelah Argentina memilih untuk bertahan.

Kudos buat kejelian Klinsmann memasukkan Borowksi dan Odonkor.

Stadion rasanya pecah oleh kelegaan rakyat Jerman. Beckenbaueur yang sejak tadi manyun di kursinya pun langsung tersenyum sangat cerah.

Pekerman membayar pertaruhannya dengan memutuskan bertahan 'terlalu' cepat. Melawan Jerman dengan mentalitas staying power yang klasik itu sangat berbahaya melawannya dengan pilihan bertahan. Mereka perlahan akhirnya akan membongkar masuk juga.

Pertandingan berlanjut ke perpanjangan. Fisik bicara. Jerman dan Argentina masih berusaha semangat bermain tapi stamina mereka perlahan menyurut.

Akhir pertandingan masuk ke drama penebusan adu penalti.

Di sini Jerman adalah rajanya. Sepanjang sejarah rasanya mereka tidak pernah kalah adu penalti di Piala Dunia.

Dan sejarah kembali berulang. Pahlawannya adalah Jans Lehmann. Dengan rasa percaya diri yang luar biasa dia membaca arah tendangan pemain Argentina. Dia menahan Roberto Ayala dan Cambiasso. Dahsyat. Lihat saja reaksinya begitu menepis Cambiasso dan menentukan kemenangan Jerman. Dia hanya mengayunkan jarinya. Tidak ada emosi yang berlebihan. Lehmann juga langsung menuju ruang ganti. Sikap yang dewasa sekali. Matang. Seperti ingin menunjukkan kalau turnamen belum selesai dan baru akan selesai ketika Jerman mencium tropi Piala Dunia.

Berikutnya Italia menekuk Ukraina. Perlahan tapi pasti Italia menunjukkan grafik permainan yang meningkat. Perempat final kemaren itu buktinya.

Menunjukkan pertahanan kelas dunia dan serangan super efektif. Menyerangnya tidak sespartan Ukraina, tapi sangat efektif. Tiap menyerang jadi gol. Apalagi yang dibutuhkan?

Gol Zambrotta di menit ke 6 menunjukkan itu. Sepakan Zambrotta merupakan hasil dari gebrakan yang cepat hingga pertahanan Ukraina belum sempat mengejapkan mata.

Berikutnya Shevchenko dkk mencoba mencungkil pertahanan Cannavaro dan menaklukan Buffon. Tapi keduanya bermain sangat apik. Buffon sampai terbentur tiang kepalanya menyelamatkan sebuah peluang super emas Ukraina. Adegannya mirip penyelamatan Gordon Banks dari sundulan Pele yang super klasik itu. Tapi masih belum cukup spektakuler untuk jadi 'another save of the century'.

Babak kedua juga masih sama. Sebuah serang Ukraina berhasil ditepis Buffon. Italia menyerang balik dan Luca Toni mencetak gol. Serangan balik yang sempurna. Perfect turn over. Diserang, menahan, menyerang balik dan gol.

Sepuluh menit kemudian Luca Toni kembali mencetak gol. Ukraina pun pupus mimpinya menjadi pengejut seperti Korea dan Turki empat tahun lalu. Underdog yang menerobos semifinal.

Berikutnya Inggris lawan Portugal.

Sven pun menurunkan formasi terbaiknya di tengah kondisi Inggris yang krisis. Lima gelandang dengan Hargreaves menjadi jangkar. Sementara di kanan Garry Neville sudah kembali. Lengkap sudah. Di depan Rooney siap menggedor.

Sementara Portugal tetap memainkan Cristiano Ronaldo dan menggantikan posisi Deco dengan menempatkan Tiago.

Babak pertama berlangsung seru. Saling tekan. Inggris menunjukkan permainan terbaiknya sepanjang Piala Dunia ini. Meski Lampard masih juga membuang satu dua kesempatan Inggris. Lampard sepertinya benar-benar off di Piala Dunia ini. Semua charming-nya sudah habis bersama Chelsea di Liga Inggris.

Tiago sendiri juga tidak bisa membuat kreasi yang biasa dilakukan Deco. Sementara Ronaldo terlihat sekali dipaksakan bermain. Hanya saja anak itu terlihat ngotot sekali.

Pertandingan berlangsung sama begitu sampai Rooney terpancing provokasi Portugal [dibanding diving, gue masih lebih 'menghormati' provokasi. masih bisa dibilang taktik yang 'jantan']. Dia menginjak selangkangan Cavalho dan mendorong Ronaldo. Kartu merah langsung. Publik Inggris pasti langsung teringat peristiwa Beckham dan Simione di Perancis 1998. Ketika itu Beckham diusir wasit karena menendang Simione.

Dan kejadian itu beberapa saat setelah Beckham dikeluarkan karena sepertinya cedera. Sebelumnya juga saat melawan Ekuador Beckham muntah-muntah. Tapi gantinya Aaron Lennon bermain luar biasa menyerang. Malah menciptakan sebuah peluang yang menyebabkan Ricardo harus menjatuhkan badannya menyelamatkan gawang. Hanya saja setelah tampilan memikat itu, Rooney kehilangan kontrolnya.

Bermain dengan sepuluh orang Three Lions berusaha tidak menyerah. Portugal sendiri juga aneh. Sudah melawan 10 orang tapi mereka tidak menekan habis. Seperti kelelahan. Tiago ditarik diganti Hugo Viana gelandang serang yang merumput di Newcastle United.

Skor pun tetap 0-0 sampai babak perpanjangan waktu selesai.

Inggris menghadapi mimpi buruk mereka. Kalau Jerman selalu menang dalam adu penalti di Piala Dunia, Inggris belum pernah. Selalu kalah.

Terlihat sekali di wajah-wajah pemain Inggris yang tegang. Saat Lampard maju jadi penendang pertama, gue sudah merasa tidak akan masuk. Benar saja. Dan pada saat Lampard gagal, Gerrard terlihat memegang kepalanya. Gue melihat itu adalah pertanda mental breakdown. Gerrard maju jadi penendang ketiga dan gagal. Begitu juga Carragher. Satu-satunya penendang Inggris yang masuk hanya Owen Hargreaves.

Sementara Portugal gagal di tendangan Vianna dan Petit. Simao dan Postiga menaklukan Robinson. Dan Cristiano Ronaldo jadi penentu. Robinson pun dia tipu mentah-mentah. Portugal pun ke semifinal Piala Dunia.

Pertarungan berikutnya adalah Perancis lawan Brasil.

Gue mencatat Perancis sedang menemukan formnya. Terutama Zidane. Seperti mendapatkan puber keduanya dengan sepakbola. Kembali 'genit' dan menggoda.

Brasil sendiri main penuh beban sekaligus seperti bertemu hantu. Terlihat sekali trauma kekalahan 1998 belum hilang. Meski sama-sama memakai taktik 4-5-1 buat mengimbangi lapangan tengah Perancis, lapangan tengah Brasil melempem.

Yang menarik adalah betapa Zidane dihormati oleh Carlos dan Ronaldo. Zidane tertawa-tertawa dengan mereka sebelum kick off. Nyaris membuat partai ini serasa persahabatan saja.

Sejak babak pertama Perancis bermain tenang dan mengukuhkan pertahanan mereka. Ribbery masih tetap menyobek ke sana kemari. Tapi yang menjadi bintang adalah Zidane. Bukan Brasil yang Jogo Bonito tapi Zidane. Lihat saja flick-flikcnya yang penuh trik dan memikat. Bahkan putaran ajaib khas Zidane pun keluar lagi dengan sangat percaya diri. Komentator berlogat Inggris kental itu sampai bilang: "Nobody in the world can turn the ball like him, not even Ronaldinho... "

Hasilnya Henry mencetak gol dari tendangan bebas Zidane di menit 57. Akhirnya ada juga assist Zidane buat Henry. Setelah sekitar 25 gol lebih dari Henry untuk tim Le Blues tanpa assist Zidane sama sekali.

Perancis bermain sangat enak. Seolah tidak peduli menang kalah. Enjoy sekali.

Sementara Brasil tidak berkembang. Parreira pun sedikit terlambat memasukkan Rubinho dan Adriano untuk menambah daya serang. Ronaldinho pun seperti tertelan magis Zidane.

Ini persis 1998. Ketika Brasil seperti begitu mudah dikalahkan Perancis. Seperti orang yang terkena 'sihir'.

Kuncinya ada di pertahanan super solid di tengah dan belakang Perancis. Plus mental bermain lepas para penyerangnya. Ditambah Domenech yang juga jeli. Pada saat sudah unggul dari Brasil, favorit sejuta umat, dia tidak bertahan. Tiga pemain dia masukkan sebagai pengganti dan tiga-tiga penyerang. Domenech tidak mau timnya kehilangan ritme permainan. Dia hanya mengganti stamina yang sudah lelah saja. Dan ini berhasil terus menjaga performa Perancis sampai menit akhir.

Tapi apakah main tanpa bebas dan nothing to loose itu nanti bisa juga meredam Portugal yang bernapsu mencetak sejarah dengan masuk final untuk pertama kalinya? Ini yang harus dijawab Domenech. Sebab kadang ambisi dibutuhkan untuk jadi pemompa semangat.

Kadang gue lihat para pemain Perancis itu agak kurang ngotot. Mereka benar-benar menunggu kesempatan bagus untuk menciptakan gol.

Bagaimana dengan Jerman-Italia? Jerman sepertinya sulit dihentikan. Tapi bisa jadi gerendel Italia benar-benar sanggup menahan laju panser yang sekarang bermesin turbo itu. Lalu mencuri kemenangan tipis lewat serangan balik yang efektif.

Klinsmann harus pintar menjaga konsentrasi dan kontrol para pemainnya. Karena untuk mengalahkan Italia dibutuhkan kesabaran dan persistensi tinggi. Bukan lagi skill. Mungkin Odonkor yang berdaya gempur tinggi bisa dipikirkan oleh Klinsmann untuk menjadi starter. Atau tetap menjadikannya super sub tapi harus tepat kapan harus memasukkan dia.

Lippi sendiri harus memikirkan siapa striker cepat yang bisa menusuk pertahanan Jerman yang kadang suka longgar. Mungkin Inzaghi yang dikenal licin bisa dilirik sebagai back up Luca Toni yang sedang on fromnya. Dan lupakan Del Piero. Kharisma Totti lebih pas untuk menghadapi Jerman.


nb: santai aja Ma, ini kan Piala Dunia 'serius' pertama kamu... :)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home