Thursday, July 06, 2006

Le Blues

Perancis mengharu biru pendukungnya di Allianz Arena.

Pertandingan yang sangat ketat dan penuh emosi.

Untung tidak mengarah jadi brutal seperti semifinal Euro 2000. Ketika Nuno Gomez, Abel Xavier dan Paolo Bento dari Portugal mengeroyok wasit dan kena hukuman suspensi hampir selama dua tahun.

Tapi ketegangan justru meruak dari kursi bench masing-masing. Scolari dan Domenech terlihat beberapa kali tidak terima dengan keputusan wasit dan akting diving yang kadang dipraktekan para pemain.

Namun pertandingan secara keseluruhan cukup bersih. Jorge Larrionda, wasit dari Urugay memimpin dengan lumayan. Sepertinya memang ada instruksi langsung dari FIFA untuk tidak terlalu mudah memberikan kartu atau keputusan yang bisa merusak permainan.

Perancis dan Portugal memulai kick-off dengan pacing tinggi. Belum sempat Thuram menemukan irama pertahanan Deco sudah terlepas dan membuat gara-gara. Untung Barthez bisa menepis tendangan dari luar kotak penalti itu.

Sementara Malouda sendiri nyaris membuat gol tercepat dalam turnamen. Di detik ke 40 kalau tendangannya tidak melesat ke atas mistar, gol bisa tercipta buat Le Blues. Miguel juga belum sempat menemukan track-nya pada saat itu untuk menyetel garis pertahanan Portugal.

Pemain Perancis menunjukkan performa dengan ketenangan yang sangat tinggi. Lihat saja bagaimana mereka mengambil bola dari kaki pemain Portugal. Bukan dengan menekel, tapi benar-benar mengambil langsung. Vieira, Zidane, Makalele melakukannya dengan saputan jam terbang yang tinggi.

Sementara Willy Sagnol, Ribery dan Malouda melakukan tusukan dari sayap dan lapangan tengah. Sagnol gue catat banyak melakukan penetrasi yang memanfaatkan lebar lapangan tapi tidak melupakan pertahanan.

Portugal sendiri juga melakukan tekanan. Deco memang dibutuhkan di tengah. Visinya begitu jeli. Banyak satu dua sentuhan dia yang menciptakan kesempatan. Hanya saja pertahanan Perancis di bawah pimpinan Thuram berhasil membendung serangan untuk tidak masuk ke kotak penalti. Tendangan-tendangan jarak jauh pun dilepaskan Maniche. Dan tidak buruk. Rata-rata meleset tipis dari gawang Barthez.

Namun Perancis bermain sangat efektif. Gue akhirnya menemukan kunci permainan Perancis. Ada pada ketenangan mereka mengatur irama permainan sendiri. Kapan cepat, kapan harus tenang-mengancam. Dan dirigennya adalah the amazing Zidane.

Pengaturan seperti ini juga cocok buat stamina para 'calon pensiunan' yang ada di tim Perancis. Ini juga membuat serangan Perancis jadi penuh variasi dan penuh kejutan.

Kadang bisa dimulai dari Vieira dan Zidane yang cenderung mengintai atau tahu-tahu Malouda dan Ribery berlari cepat menusuk pertahanan Portugal.

Yang gue agak heran adalah tidak adanya pressing terhadap Zidane di lapangan tengah. Sekali lagi Zidane seperti dibiarkan berkreasi. Atau memang Zidane sulit dipress? Memang kadang ada tiga pemain Portugal mengurung Zidane saat dia memegang bola. Tapi gerakan tanpa bola Zidane yang sama berbahayanya kerap tidak dijaga.

Akibatnya lewat sebuah gebrakan yang rapih, Henry masuk kotak penalti dan dijatuhkan Cavalho. Scolari menuduh itu diving. Kalau melihat rekaman ulang, Cavalho memang melakukan tekel ringan. Tapi ringan atau tidak, di kotak penalti pelanggaran berbuah hukuman tendangan 12 pas.

Di menit 33, Zidane mengulang sejarang enam tahun lalu. Ketika dia menendang penalti yang membawa Perancis ke final Piala Eropa.

Ricardo membaca arah tendangan dengan baik. Tapi tendangan Zidane jauh lebih baik. Dengan ketengangan luar biasa, sang profesor melesatkan bola jauh ke sisi kanan Ricardo dan masuk.

Sehabis itu Portugal meningkatkan serangan. Tapi Perancis tidak menurunkan irama permainan mereka.

Babak ke dua Scolari jelas menginstruksikan serang habis. Tapi Domenech mengantisipasinya dengan baik.

Lapangan tengah dia lepaskan, tapi menggalang pertahanan dengan taktik yang jitu. Pemain Perancis menghambat sisi sayap dengan ketat hingga serangan sayap Portugal mau tidak mau bergeser ke tengah. Dan di sana pemain Perancis bertumpuk rapat. pemain belakang dan pemain tengah membuat tembok yang tebal.

Gue perhatikan sistem pertahanan Perancis itu berbentuk diamond terbalik. Lapisan kedua pertahanan selalu lebih banyak jumlahnya dibanding lapis pertama. Kalau tidak 2-1 biasanya 3-2 atau 4-2. Ini membuat lawan sangat sulit untuk menembus dengan umpan satu dua di kotak penalti. Untuk melakukan tendangan dari luar kotak pun juga tidak mudah. Karena sulit mencari celah.

Sebuah kesempatan sangat krusial didapat Portugal ketika Brathez melakukan blunder. Tendangan bebas Ronaldo yang tajam ditangkap dengan tidak sempurna. Hanya saja sundulan Figo menyisir tipis mistar atas Barthez.

Babak kedua praktis Perancis bertahan. Hanya sekali saja ada kesempatan emas dari gebrakan Henry yang berhasil dibelokkan Ricardo jadi tendangan sudut.

Namun pemain Portugal tidak juga bisa mengacaukan pertahanan Perancis dengan tenang. Sampai peluit akhir ditiup dan apa yang selalu diwiridkan Domenech bahwa Perancis akan berlaga di tanggal 9 Juli [partai final] pun jadi nyata.

Gue melihat sepertinya stamina perlahan menyeruak juga jadi problem di kubu Les Blues. Tidak bisa dipungkiri, bermain di partai hidup mati sejak perdelapan final, tentu menguras stamina, konsentrasi dan mental.

Bagaimana Domenech mengakali ini di final saat menghadapi Italia yang notabene jauh lebih muda susunan skuadnya? Apakah faktor semangat dan motivasi yang dia suntikkan sebagai booster tambahan?

Mungkin iya. Cuma tinggal itu saja yang bisa dilakukan Domenech. Kecuali dia punya kejutan atau berani memainkan kejutan dengan merubah formasi line up. Misalkan mencadangkan Zidane dan memasukkannya di babak kedua. :)

Atau, ini serius, memainkan duet dua striker Trezeguet-Henry untuk membongkar lebih keras gerendel Italia. Ditambah lagi fakta kalau Trezeguet itu main hampir tiap hari dengan Canavaro di Juventus. Resikonya Domenech mengorbankan winning team. Tapi gue rasa yang pertama kali dilihat adalah prioritas taktik dan lawan.

Sepertinya Italia juga akan menghadapi Perancis dengan taktik menguatkan lapangan tengah. Dan tidak membiarkan Zidane bermain dengan tenang.

Domenech sendiri harus memikirkan bagaimana menembus amazing defending dari Canavaro. Seorang Henry saja rasanya tidak cukup. Canavaro harus bisa dibikin repot. Mungkin Ribery akan diuji apakah dia jauh lebih baik dibanding pemain sayap dunia lainnya yang tidak berhasil menembus Canavaro selama turnamen ini.

Tebakan gue, akan terjadi perpanjangan waktu. Karena keduanya punya sistem pertahanan yang baik sekali. Dan keduanya juga memainkan serangan dengan efektif. Bukan serangan menggempur dan mendudu.

Seperti yang gue tulis sebelumnya bisa jadi permainan akan muncul dalam tempo sedang tapi ketat dan liat. Penuh kecerdikan taktik dan ketenangan.


nb: piala dunia selesai, bukan berarti nuansa bola hilang, sayang... :)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home