Wednesday, January 05, 2005

Mafia!

Soleh udah nulis di blog-nya soal seorang bos yang menembak pelayan bar karena masalah yang lebih kecil dari pada kacang kedele nyelip di sepatu. Si bos itu anak mantan seorang jendral yang dulu sangatlah kaya raya dengan minyak negara. Konon itu yang membuat beliau akrab dengan pestol. Wacana 'apa gue tembak mati aja tuh orang' udah jadi seakrab 'tolong beliin rokok di warung. Kalo tukangnya nyebelin bakar aja'. Akhirnya di ujung 2004 dia nembak anak orang beneran.

Mental mafia.

Semalem ngacapruk soal produksi film sama Hanung, mas Eric dan Andre, teman baru lulusan Film dan TV Australia. Hanung cerita baru ketemu salah satu cabang dari family tree yang pernah 'punya negara'. Hanung datang karena hiruk-pikuk sebuah sinetron. Big boss itu merasa dikadali oleh seorang produser yang juga ngerjain gue sama Hanung. Sinetron itu pun jadi terkatung-katung padahal sudah tayang.

Singkat obrolan, si big boss, itu dalam empat kali angkat telepon dapat 8 slot acara di 4 TV Swasta Nasional. Dan dia menelepon langsung ke pucuk-pucuk pimpinan. Bukan sekedar Direktur Program. [Sementara banyak orang yang jungkir balik bikin PH. Banyak sutradara berbakat yang jungkir balik coba dapat debut pertamanya. Dan ternyata kuncinya ada di 'keberuntungan'. Dimana itu belajarnya? Dimana itu kampusnya?] Lalu dia sedikit mengancam kalo nama produser kadal itu masih ada namanya di produksi sinetron bermasalah tadi dia bakal menembak orang-orang yang bertanggung jawab.

Mental Mafia.

Ingat ajalah bos: "Memangnya di sini Texas. Di Abad Sembilan belas... Di sini bukan di Sicicila... Di sini kan Indonesia..." [Piss - Slank]




3 Comments:

Blogger soleh said...

Seperti biasa, versi Sunda heula.
Ris, keberuntungan teh belajarna di imah. Kampusna oge, di imah. Ngan dosenna, jelema-jelema nu boga duit cukup jang tujuh turunan. Nu loba teuing nonton film Godfather jeung film The Sopranos. Edan,lah. Mun maneh wani, tong ngan bisana nulis di blog atuh. Tulis carita tentang mafia Indonesia. Saha nu nyaho laku. Jadi pan maneh bisa memanfaatkeun keadaan eta. Nya eta ge mun maneh wani. Anggap we, ieu tantangan ti urang. Hahaha.

Terjemahan:
Ris,keberuntungan tuh belajarnya di rumah. Dosennya, orang-orang yang punya banyak duit yang cukup buat tujuh turunan. Yang terlalu banyak nonton film Godfather dan The Sopranos. Edan, lah. Kalo lu berani, jangan hanya bisa nulis di blog dong. Tulis cerita tentang mafia Indonesia. Kali aja, laku. Jadi, elu bisa memanfaatkan keadaan ini. Itu juga kalo elu berani. Anggap aja, ini tantangan dari gua! Hahaha.

4:33 PM  
Blogger soleh said...

Ris, sigana aya nu salah dengan kutipan lirik maneh.
Maneh nulis:
"Di sini bukannya Texas. Di abad sembilan belas. Di sini bukan di Sicilia. Di sini kan Indonesia..."

Padahal, sanyaho urang, euwueh lirik "DI SINI BUKANNYA TEXAS," tapi kuduna, "MEMANGNYA DI SINI TEXAS." Selebihna mah, euweuh koreksi.

kitu we. piss!

6:20 PM  
Blogger aris said...

Nuhun, nuhun. Sudah dikoreksi...

9:16 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home