Monday, August 22, 2005

Whisper of The Neighbour

Terjemahan bebas: Bisik-bisik Tetangga.

Ternyata tetangga itu memang powerful. Gue, mahluk yang bisa dibilang asosial sama penghuni koloni sebelah rumah itu, akhirnya mau tidak mau mengakui kekuatan yang dipunyai mereka.

Cerita tentang Camer gue mendadak jadi agak gugup pas lamaran karena bisikan tetangga mungkin kalian udah pada baca. Dan sepupu gue yang juga mau lamaran mengalami hal yang sama.

Sepupu gue itu kebetulan orang tuanya ada di Payakumbuh, jadi pas sowan sebelum lamaran diwakilin sama Oom gue. Adat minangkabau memang begitu. Dimana mamak atau paman pegang peranan sangat penting. Saat sowan dan berhadapan dengan Bokap ceweknya saja suasana aman. Sampai pas ngomongin kapan mau pestanya. Krusial. Sepupu gue sama ceweknya, as always, mau cepet aja. Bokap ceweknya terlihat setuju-setuju saja. Apalagi mereka udah pacaran tiga tahun lebih. Beres? Tidak.

Entah darimana legitimasinya, seorang tetangga yang kebetulan hadir di situ buka mulut. Dan meminta kalo bisa pas nikah nanti, orang tua sepupu gue datang. Padahal Oom gue sudah menjelaskan, kalo dengan keberedaan dia aja udah cukup sebenarnya. Karena mendatangkan orangtua sepupu gue itu sangat tidak mudah. Biaya, waktu dan sebagainya. Bisa-bisa mereka nikah sesudah gue nanti. Tapi tetangga itu memberikan argumen dengan kisah dulu pernah ada yang model begini tapi ternyata yang menikahkan bukan saudara tapi orang lain.

Oom gue pun melempar bola ke Camer sepupu gue. Bapak itu gelagapan dan akhirnya mengiyakan usulan tetangganya. Sepupu gue pun nginyem. Jadilah dia nikah tahun depan. Karena saat mau puasa begini, biasanya orangtuanya yang punya pabrik penggilingan padi sangat sibuk dan biasanya sedang berurusan dengan bank masalah finasial.

Gue juga nyaris mengalami pindah gedung tempat nikahan gara-gara bisik-bisik yang satu ini. Ceritanya begini. Tetangga si ratu ngeles itu, seorang ibu-ibu dengan sangat baik hati nyaris memberikan nervous breakdown pada Ibunya dengan mengatakan gedung yang sudah disepakati oleh keluarga kami itu kecil dan AC-nya kurang dingin.

Untung Camer gue cukup bijak memutuskan untuk menginspeksi gedung tersebut. Alhasil gue nggak jadi pindah gedung. Karena bisik-bisik itu ternyata berlebihan saat dibuktikan secara langsung.

Tapi bisik-bisik itu nggak selamanya juga menyebalkan. Gue bisa sampe ke titik sekarang juga karena bisik-bisik tetangga yang ngomongin gue sama cewek gue di awal-awal pacaran dulu. Bola terus menggelinding dan gue insya Allah nikah Januari nanti. :D

Ini membuktikan kalo teori kekuatan dan tekanan peer-group hanya berlaku kencang saat remaja salah total. Nggak percaya, silahkan coba-coba buat nikah.

Dan berdasarkan arah journey gue ke depan, kayaknya gue bakal menghadapi lebih banyak lagi bisik-bisik tetangga. Mungkin lebih dahsyat. Doa kan saya selamat.

nb: Nah, mulai sekarang Ed, biasakan tidak mendengarkan omongan dari samping. Jadi nanti pas ada tetangga kita beli BMW seri terbaru kamu nggak belingsatan... :D

1 Comments:

Blogger rgsn24 said...

Eh, kata Rasul: tetangga itu saudara kita yang terdekat. ya gak apa-apa lah mau ngomong apa juga! tandanya kan mereka perhatian sama kita [ini kata kamu lho]. semuanya toh tergantung sama kita kan? mau langsung iya-in semua perkataan orang (siapapun! mau tetangga, orang tua atau sahabat [dll]) atau membatasi kalau omongan dari mereka sekedar masukan. tapi, kalau udah jadi gangguan, punya sikap aja.

jadi, menurut saya 'omongan dari samping' perlu didengarkan. asal tepat dan sesuai takaran :p soalnya para tetanggaku sama sekali gak powerful kalau berhadapan sama sikap keluargaku ;)
atau setidaknya ke aku dan bapak. hehehe.

nb: kalau aku sih doain kita yang beli BMW seri terbaru :p dan mudah-mudahan para tetangga gak belingsatan :D hahaha!

dan aku harap kamu gak asosial [lagi] sama tetangga. inget, mereka saudara kita yang terdekat pi :) kalo semua orang jadi asosial, aku akan merindukan 'whisper of the neighbour' !!!! hahaha

3:38 PM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home